Rabu, 27 Desember 2017

Semangat Yang Jatuh

Penghujung Desemember 2017.

Hampir 1.5 tahun tinggal di Sapporo, Hokkaido, Jepang. Masih teringat jelas di benak saya setahun yang lalu, di hari yang sama. Musim dingin di kota ini begitu dingin dan baru akan berakhir pada April tahun depan. 

Kawan, jika kalau bicara tentang tekad mungkin saya adalah orang yang sangat lemah tekadnya. Setidaknya untuk saat ini. 

Beberapa bulan ini, progres penelitian saya berjalan stagnan. Bukan karena sulitnya saya mencoba, atau usaha yang saya lakukan gagal. Tapi blas, saya tidak melakukan apa-apa dengan penelitian saya. 

Dalam beberapa bulan ini, yang saya lakukan hanya buka yutub, fesbuk, atau web-web remeh lainnya yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan riset yang tengah saya lakukan. 

Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya. Apakah saya stres? depresi? entahlah.. Tapi yang pasti saya sangat sedih dengan apa yang sedang saya alami saat ini.

Semangat yang dulu menggebu-gebu untuk menyelesaikan S3 saya tepat waktu perlahan-lahan memudar. Tak jarang, saya menangisi kondisi saya yang sekarang. Kok gini amat ya..

Jika diibaratkan grafik, kondisi saya sekarang seperti meluncur terjun bebas. Belajar saya malas, ibadah seperti tidak dengan jiwa, dan cenderung malas bertemu orang.

Saya pusing, saya sedih, saya menangis.

Sampai pada tahap dimana saya tidak tahu harus berbuat apa.  Belakangan, saya berpikir, asalkan orang-orang melihat keadaan saya baik-baik saja. Saya merasa cukup.

Selalu di ujung telepon, Ayah & Bunda selalu menanyakan kabar yang hanya bisa saya jawab dengan "Alhamdulillah, semua baik, semua lancar". Tapi sungguh, ingin saya menangis dan menceritakan semua apa yang saya rasakan saat ini. Ingin saya katakan bahwa keadaan saya saat ini sedang tidak baik-baik saja.  Ingin saya tumpahkan segla unek-unek saya. 

Tapi apa? Apa yang mesti saya ceritakan? Apa yang mesti saya keluhkan?  Saya sendiri tidak tahu, dan tidak mampu menjabarkan masalah yang tengah saya hadapi saat ini. Bukankah jika begitu keadaannya, hanya akan menambah beban pikiran mereka yang jauh di tanah air sana.

Hari-hari berjalan seperti biasa.
Saya pergi ke lab dari pagi dan baru pulang nyaris tengah malam. Kadang harus menerobos terpaan salju yang lebat dan kencang. Tapi sungguh, semua itu tak ada arti apa-apa melainkan untuk mengkamuflase bahwa saat ini saya baik-baik saja. Bahwa saat ini saya sedang ada kesibukan.











Kamis, 04 September 2014

Proses Pendewasaan Adik Kakak

Keluarga adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan kita. Sebanyak apapun sahabat dan relasi yang kita miliki, namun ketika kita sakit atau jatuh terpuruk, maka keluarga akan menjadi benteng utama yang akan selalu melindungi kita dari segala rasa takut. Merekalah yang akan selalu men-suport kita untuk bangkit. Keberadaan mereka akan selalu membuat kita tenang di saat-saat krusial dalam hidup  kita.

Lucu memang. Dulu ketika masih kecil kami sering kali bertengkar. Dan biasanya disebabkan oleh hal yang sangat remeh-temeh. Bahkan ketika kuliah pun kami masih sering bertengkar. Meski dilihat oleh orang luar kami akur-akur saja, tapi sebenarnya frekuensi pertengkaran kami lebih banyak daripada akurnya.

Frekuansi pertengkaran mulai mereda setelah beberapa tahun terakhir. Entah karena sudah bosan bertengkar atau memang karena proses alami pendewasaan. Meskipun seringkali tindakan adik-adik atau kakak saya yang membuat hati saya dongkol, tapi sekarang saya lebih bisa mengendalikan diri. Walau kakak saya terkadang sangat menyebalkan, tapi saya akui, dialah yang paling bertanggung jawab di antara kami semua.

Ngomong-ngomong tentang tanggung jawab, mungkin sudah sunnatullah bahwa yang lebih tua bertanggungjawab terhadap yang masih muda. Meskipun tidak tertulis di undang-undang ataupun perjanjian yang terikat hukum, namun rasa sayang terhadap keluarga membuat saya dan kakak sebagai dua anak tertua berfikir bahwa kami harus berbuat sesuatu untuk keluarga. Tak dinyana, saya dan kakak yang sama-sama laki-laki, yang dulu tidak bisa berbicara secara baik-baik satu sama lain, selalu ketus atau teriak-teriak tiap bicara dan mencoba mendominasi satu sama lain, sekarang bisa berbicara dari hati ke hati. 

Ketika saya hampir selasai kuliah, di suatu malam yang tidak biasa kami berbicara layaknya adik kakak normal seperti kebanyakan. Inti pembicaraan kami adalah kami bertekad untuk membantu biaya perkuliahan adik-adik kami. Saya yang di awal-awal lulus punya pengasilan pas-pasan pun selalu bilang ke adik-adik, "Tugas kamu kuliah itu belajar. Nanti kalau uang kiriman dari orang tua kurang, kasih tahu kakak. Meskipun tidak sebanyak yang kamu butuhkan, kakak pastikan akan selalu ada uang di setiap kalian membutuhkannya". Antara sadar dan tidak tapi faktanya saya berkata seperti itu pada adik saya. Benar-benar tak menyangka saya akhirnya mengatakan sama persis sseperti yang dikatakan oleh orangtua saya kepada saya dulu di awal-awal kuliah.

Meskipun sulit, namun mencari uang demi orang yang  kita sayangi apalagi keluarga sendiri tidak begitu terasa lelahnya. Dan rasa puas itu muncul setelah ada sms dari adik-adik yang berbunyi "Kak, uangnya sudah sampai. Terimakasih ya.." :)

Dulu kakak saya sempat kena penyakit demam berdarah dan harus di opname beberapa hari. Kebetulan ketika proses pembayaran, uang yang di bawa ayah saya kurang. Daripada harus menggadaikan emas yang ada di rumah, maka kami pikir lebih baik menggunakan uang tabungan saya. Dan saya setuju saja. Sungguh, meskipun tabungan saya langsung ludes, tapi saya bahagia. Tidak ada rasa sesal sedikitpun. Tak ada pula niat untuk menagih kembali uang saya dari orangtua. Dan saya yakin, semua bisa terjadi karena rasa cinta dan rasa syukur bahwa kakak saya kembali normal seperti sedia kala. Dan proses pendewasaan pula yang akhirnya pula yang membuat kami dapat menghormati satu sama lain. Tiap saya lihat adik-adik dan kakak saya, saya yakin bahwa kami punya tujuan yang sama; membahagiakan kedua orangtua kami.

Ketika lulus kuliah, cepat atau lambat pun semua teman akan terpisah. Bukan karena mereka sombong atau membencimu, tapi karena siklus kumpul-kumpulnya sudah tidak seinstens dulu lagi, baik karena faktor kesibukan pekerjaan ataupun keluarga yang telah dibina masing-masing.

Di saat itulah, adik dan kakak kita yang akan menjadi teman untuk curhat, keluh kesah, atau paling tidak, merekalah orang yang paling intens berkomunikasi dengan kita. Saya tidak menyangka, adik saya yang dulu paling sering ngeyel atau melawan ketika ditegur, sekarang hanya diam ketika saya marahi saat dia salah. Atau saya yang dulu sering menjawab kakak saya ketika dinasehati kakak saya, sekarang jadi lebih penurut.

Saya  sudah banyak melihat perilaku keluarga orang lain. Ada yang sampai tua mereka masih harmonis. Dan adapula yang sudah beranak-cucu masih saja sering bertengkar sesama adik-kakak.  Pelajaran kehidupan yang membuat saya bertekad bahwa harmonis sampai tua adalah cita-cita yang harus dicapai. Meskipun di tengah perjalanan nanti terdapat gangguan ataupun pertengkaran kecil, saya selalu berdoa semoga saja keharmonisan di antara kami awet sampai tua.




Nikmatnya bersama keluarga


Saya sangat bersyukur dilahirkan di tengah-tengah  keluarga saya saat ini. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Ayah saya adalah seorang pegawai negeri dengan gaji bulanan yang tidak besar. Sedangkan ibu adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Tinggal di keluarga besar, tentu saja banyak suka dukanya. Terlebih dengan profesi ayah yang hanya seorang pegawai negeri. Dulu ketika kami masih kecil, setiap ada makanan pasti selalu dibagi rata. Dan sate adalah makan yang paling nikmat saat itu. Ketika itu, setiap ada momen tertentu, ayah selalu membeli sate 2 porsi. 1 porsi isinya sepuluh tusuk. Sehingga Totalnya ada 20 tusuk yang semuanya dibagi 7 orang. Jadi setiap orang kebagian 3 tusuk. Dan tentu saja, Bundalah yang selalu mengalah sehingga selalu kebagian 2 tusuk.

Sungguh, meskipun sedikit tapi entah mengapa saya baru menyadari itulah sate yang paling nikmat. Saya tidak tahu mengapa sate itu terasa begitu nikmat. Apa karena sedikit, apa karena lapar, apa karena begitu jarangnya kami memakan makanan yang enak, atau mungkin kebersamaan itulah yang membuat makanan itu menjadi jauh lebih nikmat.. entahlah..

Saat ini  sate bukanlah suatu makanan mewah bagi kami, khususnya bagi saya pribadi. Memiliki penghasilan sendiri, di rantauan dan masih lajang membuat saya lebih sering makan di luar. Tapi sungguh, makanan-makanan yang saya telan seperti terasa hambar. Setiap kali saya makan di hotel ataupun restoran mahal (biasanya karena urusan pekerjaan), saya selalu saja teringat dengan Ayah, bunda, dan adik-adikku yang masih SMA dan kuliah.

Sungguh, meskipun hidup dalam keprihatinan dan ketidaksempurnaan, saya rindu apa yang terjadi dengan masa lalu.

Kamis, 21 Agustus 2014

Mulai nge-blog lagi

Setelah sekian lama vakum, akhirnya saya memutuskan untuk nge-blog lagi. Sempat bingung saat bikin alamat blog, soalnya setiap submit nama, selalu saja alamat tersebut sudah ada pemiliknya. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, dapatlah nama alamat aircita.blogspot.com. Sengaja saya mencari-cari nama yang ada unsur airnya, karena elemen saya adalah air (hehehe, ini hanya kemauan saya saja).

Blog ini  berbeda dengan blog-blog saya sebelumnya yang sudah jarang aktif. Blog ini saya khususkan untuk menulis hal-hal yang saya alami di kehidupan sehari-hari. Ya kasarnya curcol kali ya. Oleh karena saya akan banyak bercerita mengenai hal-hal yang sifatnya privasi, maka saya akan menggunakan nama samaran, baik untuk saya sendiri maupun orang-orang yang terlibat dalam cerita. hihihhihihi.

Oke Sipp.. ini post pertama saya. post-post berikutnya gak tau kapan. hehehehehe




Minggu, 29 Desember 2013

Dongeng Ayah

Kemarin, saya temukan panggung boneka untuk sandiwara dan iseng-iseng saya memainkannya, mencoba untuk menghidupkan boneka tersebut seperti apa yang ada dalam imajinasi saya. Kali ini, ceritanya tentang Meerkat Manoor versi saya. 

Bicara mengenai imajinasi, Saya percaya, bahwa salah satu tujuan Tuhan menganugahkan kita otak adalah supaya kita bisa berimajinasi. Berimajinasi mampu membuat kita menembus sebuah dimensi antah barantah, yang mungkin dimensi itu hanya ada di dalam imajnasi kita. Kita bisa menjadi orang yang benar-benar merdeka ketika berimajinasi, dan kita pun bisa menjadi apa saja ketika kita berimajinasi. Namun, seperti anugrah tuhan lainnya, imajinasi adalah sebuah kenisbian, ia bisa membentuk seseorang tergantung dari seperti apa pemilik imajinasi tersebut memainkannya.

Imajinasi membuat kita mampu melampaui jauh dari keadaan kita sekarang. Film Star Trek yang muncul sejak tahun 60-an dan disusul sekuelnya pada tahun-tahun berikutnya adalah contoh betapa Imajinasi lebih dahulu memunculkan perangkat teknologi canggih seperti Ponsel, Ipad, teleconfrence, dan Google glass.

Ada sedikit cerita yang ingin saya bagikan mengenai imajinasi.
Ketika saya kecil dulu, Ayah saya, selalu memberikan cerita pengantar tidur kepada kami anak-anaknya. Dan kami selalu antusias mendengarkan cerita dari Ayah. Menurut saya, ayah adalah seorang pendongeng terkeren sedunia. Cerita yang beliau bawakan adalah cerita rakyat, seperti si Kancil, si Mahmut, beruk jama labi-labi (Kera dan Kura-kura), Kancil vs Raksasa Brumbumkuyung, Raksasa Gergasi, dan cerita-cerita lainnya. Ketika ayah bercerita, kami pasti selalu meperhatikan dengan seksama, terdiam, sambil berimajinasi dan mencoba memvisualisasikan tokoh-tokoh yang diceritakan ayah. Terkadang, kami selalu tertawa ketika mendengar adegan lucu di tengah cerita.

Ayah bercerita secara lisan menggunakan bahasa Lampung, dan tanpa buku teks apalagi gambar. Di setiap akhir cerita, beliau selalu menyampaikan pesan moralnya. Tiap kali ayah bercerita, suara dan mimiknya pun ikut bercerita sesuai dengan alur yang berjalan. Biasanya, Ayah selalu membuka cerita dengan kalimat, "Wat ceritaaaa,Jaman timbai hurik....." dengan suara yang dibuat nge-bas. Lalu, suaranya berganti-ganti tergantung tokoh apa yang sedang berbicara, Ayah juga terkadang memegang perutnya untuk memvisualkan adegan Raksasa yang sedang dikerjai kancil sambil teriak "Aguy, aguy..", Suara berat "Dum.. Dum.. dum.." untuk suara berat raksasa yang berjalan, dan tawa menggelagar untuk raksasa yang tertawa.

Momen ayah bercerita adalah momen yang selalu kami tunggu, Karena di momen seperti itulah ayah menjadi sosok yang menyenangkan. Selain di momen itu, ayah adalah sosok yang keras, bahkan kadang menakutkan, terutama kalau sedang marah, Hahahaha. Bisa dibilang, mendongeng adalah penyeimbang karakter ayah yang sangat keras itu.

==
Seperti halnya beliau membebaskan kami berimajinasi saat mendongeng, ayah pun selalu membebaskan kami dalam menjalani hidup. Sejak kecil, Dia tak pernah memaksa kami untuk sekolah di mana atau menjadi apa kelak. Dia benar-benar membebaskan kami dalam memilih, termasuk dalam hal pemikiran dan prinsip. Ayah selalu mengarahkan kami untuk berargumen ketika iya menanyakan alasan kami memilih sesuatu. Bahkan hingga kini pun, ayah selalu meminta kami menyanggah pernyataan dia, jika apa yang dia sampaikan tidak sesuai dengan pemikiran kami.

Ayah dan Bunda pula lah yang selalu menuntun kami bagaimana cara berbicara yang santun ketika berargumen. Mereka pula yang mengajarkan kami kata-kata apa saja yang boleh dan tidak boleh dipakai ketika sedangberbicara dengan orang lain. Ilmu yang sangat bermanfaat terutama untuk saya yang kurang lancar bicara. Bahkan kata bunda, saya selalu sakit-sakitan ketika kecil dulu dan baru bisa bicara setelah usia 2 tahun. Bisa dibilang saya mengalami telat bicara untuk ukuran anak-anak seusia itu.

Terkadang, saya melihat roman kecewa ketika kami memilih sesuatu yang sebenarnya tidak ayah atau bunda harapkan. Namun sekali lagi, sedikitpun mereka tidak komplain dengan pilihan kami. Pesan ayah pada kami tidak muluk-muluk, Ayah percaya pada kami dan kami harus menjaga kepercayaan itu.

Ayah dan bunda telah memberikan pendidikan moral dari rumah dengan kurikulum terbaik dan dengan cara penyampaian yang mampu menancap di dalam hati. Perlu diketahui, bahwa ayah lah orang yang pertama kali mengajarkan kami shalat, dan membaca huruf hijaiyah setiap habis maghrib. Mereka percaya, bahwa ketika mereka melepaskan kami ke dunia luar di suatu hari nanti, kelak kami akan mampu bertanggungjawab pada diri sendiri.

==

Menjelang tahun 2014 ini, mungkin saya juga harus mencoba berimajinasi tentang apa yang akan terjadi pada hidup saya selama tahun tersebut, lalu mencoba menyusun rencana demi rencana supaya imajinasi itu menjadi sebuah realitas.