Kamis, 04 September 2014

Nikmatnya bersama keluarga


Saya sangat bersyukur dilahirkan di tengah-tengah  keluarga saya saat ini. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Ayah saya adalah seorang pegawai negeri dengan gaji bulanan yang tidak besar. Sedangkan ibu adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Tinggal di keluarga besar, tentu saja banyak suka dukanya. Terlebih dengan profesi ayah yang hanya seorang pegawai negeri. Dulu ketika kami masih kecil, setiap ada makanan pasti selalu dibagi rata. Dan sate adalah makan yang paling nikmat saat itu. Ketika itu, setiap ada momen tertentu, ayah selalu membeli sate 2 porsi. 1 porsi isinya sepuluh tusuk. Sehingga Totalnya ada 20 tusuk yang semuanya dibagi 7 orang. Jadi setiap orang kebagian 3 tusuk. Dan tentu saja, Bundalah yang selalu mengalah sehingga selalu kebagian 2 tusuk.

Sungguh, meskipun sedikit tapi entah mengapa saya baru menyadari itulah sate yang paling nikmat. Saya tidak tahu mengapa sate itu terasa begitu nikmat. Apa karena sedikit, apa karena lapar, apa karena begitu jarangnya kami memakan makanan yang enak, atau mungkin kebersamaan itulah yang membuat makanan itu menjadi jauh lebih nikmat.. entahlah..

Saat ini  sate bukanlah suatu makanan mewah bagi kami, khususnya bagi saya pribadi. Memiliki penghasilan sendiri, di rantauan dan masih lajang membuat saya lebih sering makan di luar. Tapi sungguh, makanan-makanan yang saya telan seperti terasa hambar. Setiap kali saya makan di hotel ataupun restoran mahal (biasanya karena urusan pekerjaan), saya selalu saja teringat dengan Ayah, bunda, dan adik-adikku yang masih SMA dan kuliah.

Sungguh, meskipun hidup dalam keprihatinan dan ketidaksempurnaan, saya rindu apa yang terjadi dengan masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar