Lucu memang. Dulu ketika masih kecil kami sering kali bertengkar. Dan biasanya disebabkan oleh hal yang sangat remeh-temeh. Bahkan ketika kuliah pun kami masih sering bertengkar. Meski dilihat oleh orang luar kami akur-akur saja, tapi sebenarnya frekuensi pertengkaran kami lebih banyak daripada akurnya.
Frekuansi pertengkaran mulai mereda setelah beberapa tahun terakhir. Entah karena sudah bosan bertengkar atau memang karena proses alami pendewasaan. Meskipun seringkali tindakan adik-adik atau kakak saya yang membuat hati saya dongkol, tapi sekarang saya lebih bisa mengendalikan diri. Walau kakak saya terkadang sangat menyebalkan, tapi saya akui, dialah yang paling bertanggung jawab di antara kami semua.
Ngomong-ngomong tentang tanggung jawab, mungkin sudah sunnatullah bahwa yang lebih tua bertanggungjawab terhadap yang masih muda. Meskipun tidak tertulis di undang-undang ataupun perjanjian yang terikat hukum, namun rasa sayang terhadap keluarga membuat saya dan kakak sebagai dua anak tertua berfikir bahwa kami harus berbuat sesuatu untuk keluarga. Tak dinyana, saya dan kakak yang sama-sama laki-laki, yang dulu tidak bisa berbicara secara baik-baik satu sama lain, selalu ketus atau teriak-teriak tiap bicara dan mencoba mendominasi satu sama lain, sekarang bisa berbicara dari hati ke hati.
Ketika saya hampir selasai kuliah, di suatu malam yang tidak biasa kami berbicara layaknya adik kakak normal seperti kebanyakan. Inti pembicaraan kami adalah kami bertekad untuk membantu biaya perkuliahan adik-adik kami. Saya yang di awal-awal lulus punya pengasilan pas-pasan pun selalu bilang ke adik-adik, "Tugas kamu kuliah itu belajar. Nanti kalau uang kiriman dari orang tua kurang, kasih tahu kakak. Meskipun tidak sebanyak yang kamu butuhkan, kakak pastikan akan selalu ada uang di setiap kalian membutuhkannya". Antara sadar dan tidak tapi faktanya saya berkata seperti itu pada adik saya. Benar-benar tak menyangka saya akhirnya mengatakan sama persis sseperti yang dikatakan oleh orangtua saya kepada saya dulu di awal-awal kuliah.
Meskipun sulit, namun mencari uang demi orang yang kita sayangi apalagi keluarga sendiri tidak begitu terasa lelahnya. Dan rasa puas itu muncul setelah ada sms dari adik-adik yang berbunyi "Kak, uangnya sudah sampai. Terimakasih ya.." :)
Dulu kakak saya sempat kena penyakit demam berdarah dan harus di opname beberapa hari. Kebetulan ketika proses pembayaran, uang yang di bawa ayah saya kurang. Daripada harus menggadaikan emas yang ada di rumah, maka kami pikir lebih baik menggunakan uang tabungan saya. Dan saya setuju saja. Sungguh, meskipun tabungan saya langsung ludes, tapi saya bahagia. Tidak ada rasa sesal sedikitpun. Tak ada pula niat untuk menagih kembali uang saya dari orangtua. Dan saya yakin, semua bisa terjadi karena rasa cinta dan rasa syukur bahwa kakak saya kembali normal seperti sedia kala. Dan proses pendewasaan pula yang akhirnya pula yang membuat kami dapat menghormati satu sama lain. Tiap saya lihat adik-adik dan kakak saya, saya yakin bahwa kami punya tujuan yang sama; membahagiakan kedua orangtua kami.
Ketika lulus kuliah, cepat atau lambat pun semua teman akan terpisah. Bukan karena mereka sombong atau membencimu, tapi karena siklus kumpul-kumpulnya sudah tidak seinstens dulu lagi, baik karena faktor kesibukan pekerjaan ataupun keluarga yang telah dibina masing-masing.
Dulu kakak saya sempat kena penyakit demam berdarah dan harus di opname beberapa hari. Kebetulan ketika proses pembayaran, uang yang di bawa ayah saya kurang. Daripada harus menggadaikan emas yang ada di rumah, maka kami pikir lebih baik menggunakan uang tabungan saya. Dan saya setuju saja. Sungguh, meskipun tabungan saya langsung ludes, tapi saya bahagia. Tidak ada rasa sesal sedikitpun. Tak ada pula niat untuk menagih kembali uang saya dari orangtua. Dan saya yakin, semua bisa terjadi karena rasa cinta dan rasa syukur bahwa kakak saya kembali normal seperti sedia kala. Dan proses pendewasaan pula yang akhirnya pula yang membuat kami dapat menghormati satu sama lain. Tiap saya lihat adik-adik dan kakak saya, saya yakin bahwa kami punya tujuan yang sama; membahagiakan kedua orangtua kami.
Ketika lulus kuliah, cepat atau lambat pun semua teman akan terpisah. Bukan karena mereka sombong atau membencimu, tapi karena siklus kumpul-kumpulnya sudah tidak seinstens dulu lagi, baik karena faktor kesibukan pekerjaan ataupun keluarga yang telah dibina masing-masing.
Di saat itulah, adik dan kakak kita yang akan menjadi teman untuk curhat, keluh kesah, atau paling tidak, merekalah orang yang paling intens berkomunikasi dengan kita. Saya tidak menyangka, adik saya yang dulu paling sering ngeyel atau melawan ketika ditegur, sekarang hanya diam ketika saya marahi saat dia salah. Atau saya yang dulu sering menjawab kakak saya ketika dinasehati kakak saya, sekarang jadi lebih penurut.
Saya sudah banyak melihat perilaku keluarga orang lain. Ada yang sampai tua mereka masih harmonis. Dan adapula yang sudah beranak-cucu masih saja sering bertengkar sesama adik-kakak. Pelajaran kehidupan yang membuat saya bertekad bahwa harmonis sampai tua adalah cita-cita yang harus dicapai. Meskipun di tengah perjalanan nanti terdapat gangguan ataupun pertengkaran kecil, saya selalu berdoa semoga saja keharmonisan di antara kami awet sampai tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar