Kamis, 04 September 2014

Proses Pendewasaan Adik Kakak

Keluarga adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan kita. Sebanyak apapun sahabat dan relasi yang kita miliki, namun ketika kita sakit atau jatuh terpuruk, maka keluarga akan menjadi benteng utama yang akan selalu melindungi kita dari segala rasa takut. Merekalah yang akan selalu men-suport kita untuk bangkit. Keberadaan mereka akan selalu membuat kita tenang di saat-saat krusial dalam hidup  kita.

Lucu memang. Dulu ketika masih kecil kami sering kali bertengkar. Dan biasanya disebabkan oleh hal yang sangat remeh-temeh. Bahkan ketika kuliah pun kami masih sering bertengkar. Meski dilihat oleh orang luar kami akur-akur saja, tapi sebenarnya frekuensi pertengkaran kami lebih banyak daripada akurnya.

Frekuansi pertengkaran mulai mereda setelah beberapa tahun terakhir. Entah karena sudah bosan bertengkar atau memang karena proses alami pendewasaan. Meskipun seringkali tindakan adik-adik atau kakak saya yang membuat hati saya dongkol, tapi sekarang saya lebih bisa mengendalikan diri. Walau kakak saya terkadang sangat menyebalkan, tapi saya akui, dialah yang paling bertanggung jawab di antara kami semua.

Ngomong-ngomong tentang tanggung jawab, mungkin sudah sunnatullah bahwa yang lebih tua bertanggungjawab terhadap yang masih muda. Meskipun tidak tertulis di undang-undang ataupun perjanjian yang terikat hukum, namun rasa sayang terhadap keluarga membuat saya dan kakak sebagai dua anak tertua berfikir bahwa kami harus berbuat sesuatu untuk keluarga. Tak dinyana, saya dan kakak yang sama-sama laki-laki, yang dulu tidak bisa berbicara secara baik-baik satu sama lain, selalu ketus atau teriak-teriak tiap bicara dan mencoba mendominasi satu sama lain, sekarang bisa berbicara dari hati ke hati. 

Ketika saya hampir selasai kuliah, di suatu malam yang tidak biasa kami berbicara layaknya adik kakak normal seperti kebanyakan. Inti pembicaraan kami adalah kami bertekad untuk membantu biaya perkuliahan adik-adik kami. Saya yang di awal-awal lulus punya pengasilan pas-pasan pun selalu bilang ke adik-adik, "Tugas kamu kuliah itu belajar. Nanti kalau uang kiriman dari orang tua kurang, kasih tahu kakak. Meskipun tidak sebanyak yang kamu butuhkan, kakak pastikan akan selalu ada uang di setiap kalian membutuhkannya". Antara sadar dan tidak tapi faktanya saya berkata seperti itu pada adik saya. Benar-benar tak menyangka saya akhirnya mengatakan sama persis sseperti yang dikatakan oleh orangtua saya kepada saya dulu di awal-awal kuliah.

Meskipun sulit, namun mencari uang demi orang yang  kita sayangi apalagi keluarga sendiri tidak begitu terasa lelahnya. Dan rasa puas itu muncul setelah ada sms dari adik-adik yang berbunyi "Kak, uangnya sudah sampai. Terimakasih ya.." :)

Dulu kakak saya sempat kena penyakit demam berdarah dan harus di opname beberapa hari. Kebetulan ketika proses pembayaran, uang yang di bawa ayah saya kurang. Daripada harus menggadaikan emas yang ada di rumah, maka kami pikir lebih baik menggunakan uang tabungan saya. Dan saya setuju saja. Sungguh, meskipun tabungan saya langsung ludes, tapi saya bahagia. Tidak ada rasa sesal sedikitpun. Tak ada pula niat untuk menagih kembali uang saya dari orangtua. Dan saya yakin, semua bisa terjadi karena rasa cinta dan rasa syukur bahwa kakak saya kembali normal seperti sedia kala. Dan proses pendewasaan pula yang akhirnya pula yang membuat kami dapat menghormati satu sama lain. Tiap saya lihat adik-adik dan kakak saya, saya yakin bahwa kami punya tujuan yang sama; membahagiakan kedua orangtua kami.

Ketika lulus kuliah, cepat atau lambat pun semua teman akan terpisah. Bukan karena mereka sombong atau membencimu, tapi karena siklus kumpul-kumpulnya sudah tidak seinstens dulu lagi, baik karena faktor kesibukan pekerjaan ataupun keluarga yang telah dibina masing-masing.

Di saat itulah, adik dan kakak kita yang akan menjadi teman untuk curhat, keluh kesah, atau paling tidak, merekalah orang yang paling intens berkomunikasi dengan kita. Saya tidak menyangka, adik saya yang dulu paling sering ngeyel atau melawan ketika ditegur, sekarang hanya diam ketika saya marahi saat dia salah. Atau saya yang dulu sering menjawab kakak saya ketika dinasehati kakak saya, sekarang jadi lebih penurut.

Saya  sudah banyak melihat perilaku keluarga orang lain. Ada yang sampai tua mereka masih harmonis. Dan adapula yang sudah beranak-cucu masih saja sering bertengkar sesama adik-kakak.  Pelajaran kehidupan yang membuat saya bertekad bahwa harmonis sampai tua adalah cita-cita yang harus dicapai. Meskipun di tengah perjalanan nanti terdapat gangguan ataupun pertengkaran kecil, saya selalu berdoa semoga saja keharmonisan di antara kami awet sampai tua.




Nikmatnya bersama keluarga


Saya sangat bersyukur dilahirkan di tengah-tengah  keluarga saya saat ini. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Ayah saya adalah seorang pegawai negeri dengan gaji bulanan yang tidak besar. Sedangkan ibu adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Tinggal di keluarga besar, tentu saja banyak suka dukanya. Terlebih dengan profesi ayah yang hanya seorang pegawai negeri. Dulu ketika kami masih kecil, setiap ada makanan pasti selalu dibagi rata. Dan sate adalah makan yang paling nikmat saat itu. Ketika itu, setiap ada momen tertentu, ayah selalu membeli sate 2 porsi. 1 porsi isinya sepuluh tusuk. Sehingga Totalnya ada 20 tusuk yang semuanya dibagi 7 orang. Jadi setiap orang kebagian 3 tusuk. Dan tentu saja, Bundalah yang selalu mengalah sehingga selalu kebagian 2 tusuk.

Sungguh, meskipun sedikit tapi entah mengapa saya baru menyadari itulah sate yang paling nikmat. Saya tidak tahu mengapa sate itu terasa begitu nikmat. Apa karena sedikit, apa karena lapar, apa karena begitu jarangnya kami memakan makanan yang enak, atau mungkin kebersamaan itulah yang membuat makanan itu menjadi jauh lebih nikmat.. entahlah..

Saat ini  sate bukanlah suatu makanan mewah bagi kami, khususnya bagi saya pribadi. Memiliki penghasilan sendiri, di rantauan dan masih lajang membuat saya lebih sering makan di luar. Tapi sungguh, makanan-makanan yang saya telan seperti terasa hambar. Setiap kali saya makan di hotel ataupun restoran mahal (biasanya karena urusan pekerjaan), saya selalu saja teringat dengan Ayah, bunda, dan adik-adikku yang masih SMA dan kuliah.

Sungguh, meskipun hidup dalam keprihatinan dan ketidaksempurnaan, saya rindu apa yang terjadi dengan masa lalu.

Kamis, 21 Agustus 2014

Mulai nge-blog lagi

Setelah sekian lama vakum, akhirnya saya memutuskan untuk nge-blog lagi. Sempat bingung saat bikin alamat blog, soalnya setiap submit nama, selalu saja alamat tersebut sudah ada pemiliknya. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, dapatlah nama alamat aircita.blogspot.com. Sengaja saya mencari-cari nama yang ada unsur airnya, karena elemen saya adalah air (hehehe, ini hanya kemauan saya saja).

Blog ini  berbeda dengan blog-blog saya sebelumnya yang sudah jarang aktif. Blog ini saya khususkan untuk menulis hal-hal yang saya alami di kehidupan sehari-hari. Ya kasarnya curcol kali ya. Oleh karena saya akan banyak bercerita mengenai hal-hal yang sifatnya privasi, maka saya akan menggunakan nama samaran, baik untuk saya sendiri maupun orang-orang yang terlibat dalam cerita. hihihhihihi.

Oke Sipp.. ini post pertama saya. post-post berikutnya gak tau kapan. hehehehehe